Pengakuan Peran Perempuan Adat Perkuat Daya Tahan Masyarakat
Jakarta, (16/4). Dorong pengakuan segera atas peran
dan hak masyarakat adat, terutama perempuan adat, sebagai bagian dari upaya
memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi ancaman krisis iklim dan krisis
pangan di masa depan.
"Pengetahuan perempuan adat tentang hutan,
pangan, dan budaya kerap terabaikan negara. Padahal, mereka adalah garda
terdepan dalam menghadapi ancaman dampak krisis iklim dan krisis pangan di masa
datang," kata Wakil Ketua MPR
RI, Lestari Moerdijat, Kamis (16/4/2026) dalam rangka peringatan Hari
Kebangkitan Perempuan Adat Nusantara yang diperingati setiap 16 April.
Peringatan ini bermula dari berdirinya Perempuan
Aman (Persekutuan Perempuan Adat Nusantara) pada 16 April 2012 di Tobelo,
Halmahera Utara, Maluku Utara.
Menurut Lestari, pengakuan segera atas peran dan
hak masyarakat adat, khususnya perempuan, merupakan langkah strategis untuk
mengakselerasi pembangunan bangsa. "Perempuan adat berperan penting
menjaga nilai-nilai budaya dan merawat kearifan lokal," tegas Rerie,
sapaan akrabnya.
Berdasarkan catatan AMAN, populasi masyarakat adat
di Indonesia diperkirakan mencapai 70 juta jiwa. Wilayah adat yang terpetakan
seluas 33,6 juta hektare, namun masih menghadapi tumpang tindih konsesi hutan,
tambang, dan migas seluas 8,5 juta hektare.
Ditambahkan oleh Rerie yang juga anggota Komisi X
DPR RI, bahwa salah satu instrumen perlindungan masyarakat adat dalam RUU
Masyarakat Adat sudah 16 tahun dibahas, namun hingga kini belum menjadi
undang-undang.
"Negara harus hadir untuk seluruh warganya,
termasuk masyarakat adat. Ini amanat konstitusi. Tahun ini harus menjadi tahun
pengakuan, bukan tahun penantian yang berlarut," ujar anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
Tanpa pengakuan atas masyarakat adat, terutama
pengetahuan perempuan adat, Indonesia akan kehilangan solusi lokal terhadap
krisis global.
"Krisis iklim tak akan terselesaikan dengan
teknologi semata. Perempuan adat sudah punya jawabannya sejak ratusan tahun
lalu. Saatnya negara mendengar dan mengakuinya," pungkas Rerie. (JHL.7)